Blog Image

Blog

Cerita singkat sejarah dan kultur body Piercing

December 15, 2020

Sementara sebagian besar orang meyakini bahwa seni body piercing (tindik) pertama kali menjadi populer berbarengan dengan menyebarnya pergerakan kultur Punk, tapi sebenarnya seni tindik telah menjadi praktik budaya dan telah menjadi bagian dari gaya hidup dari banyak kelompok-kelompok masyarakat di Dunia selama berabad-abad, bahkan jejaknya bisa ditelurusi hingga ke ribuan tahun lalu dan telah menyentuh ke sebagian besar benua di Dunia.

Sebagai bagian dari budaya lampau, setiap kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia mempunyai pemahamanya, cara dan cirinya sendiri tentang  latar belakang dan fungsi pemakaian tindik, tapi dari beberapa beberapa kecenderungan yang sama, secara sederhana bisa disimpulkan sebagai berikut : menjadi identitas/ciri khusus dari satu klan atau suku tertentu, sebagai indikasi status atau strata sosial, untuk menambah daya tarik fisik, memberi kesan menakutkan bagi musuh, memiiki nilai magis dan sebagai syarat dari ritus tertentu.

Beberapa bukti yang telah terdokumentasi adalah relief batu dari Nimrud, Irak, yang menangkap gambar manusia dengan piercing teling, berkisar di abad 900 tahun SM, bukti lain menunjukan usia yang lebih tua lagi, peircing  di cuping telinga dengan diameter berukuran 7-11 mm, ditemukan di mumi yang membeku di gleser Austria berumur 5300 tahun.

 

Buckle up! Perjalanan ke masa lalu akan kita mulai dengan mumi berumur 5300..

 

 

Ear Piercings (Tindik kuping)

 

a historical and cultular history of body piercingOtzi - mumi - berumur 5,300 tahun. Saat tubuh Otzi ditemukan oleh dua turis di perbatasan Austria & Itali (1991), dia ditemukan memiliki tindik kuping dengan ukuran diameter 7-11 mm. Dipercaya, Otzi hidup di masa sekitar 3,300 SM, dari situ bisa disimpulkan bahwa, seni tindik kuping telah menjadi bagian dari praktik budaya, sejak masa-masa awal perkembangan Manusia dan budayanya.

Kita maju 2000 tahun, ke era Mesir kuno, masa Raja Tut, kultur menindik kuping juga menjadi bagian kultur mereka. Putra sang raja ( yang memerintah sekitar tahun 1332-1323 SM) menunjukan bukti memakai aksesories kuping, bersama banyak masyarakat Mesir kuno lainya kala itu.

Menuju ke 1300 tahun berikutnya ( sedikit lebih jauh ke arah barat ) anting-anting (tindik kuping) masih menjadi aksesoris yang populer (untuk sebagian besar laki-laki) di era Romawi kuno, Julius Caesar sendirilah yang mempopulerkan tindik kuping dan menjadi bagian fesyen item sekitar era 49 - 45 SM.

Selama era Abad ke-16 di Britania, setiap pria dari kalangan ningrat setidaknya memiliki satu tindikan di kuping sebagai simbol status atau kekayaanya. Tapi kala itu, tidak hanya terbatas di kalangan atas atau sekelempok orang yang bekuasa saja yang memakai tindik telinga dan tidak sepenuhnya berfungsi dekoratif.

Meskipun tindik kuping telah dipraktikan selama berabad-abad, praktiknya berawal dari beragam suku bangsa di masa lampau dengan latar belakang yang mengandung nila-nilai metafisik. Orang-orang kala itu mempercayai bahwa setan/ruh jahat/energi negatif bisa merasuki tubuh manusia melalui telinga, tapi mereka bisa ditangkal dengan benda/aksesoris yang terbuat dari logam, dalam hal ini anting-anting berfungsi untuk melindungi dari kerasukan.

 

Nose Piercing (tindik hidung)

A Historical and cultural history of Body PiercingsCatatan pertama yang menyebut tentang Tindik hidung terdapat dalam injil, Genesis 24 : 22 , saat Abraham memutuskan untuk mencarikan anaknya Isaac istri, kemudian Abraham memilih Rebekah dan memberikan cincin emas untuk dipasang di tindik hidung Rebekah, sebagai mas kawinya.

Menurut The Naked Women : A study of female Body oleh Desmond Morris : “ Penindikan hidung adalah praktik budaya yang lumrah dalam suku Berber dan orang-orang Beduin ( Afrika Utara & Timur tengah ) saat seorang calon suami memberikan calon istrinya cincin hidung emas saat mereka menikah.

Kekaisaran Mughal membawa praktik iini ke India pada abad ke-16. Aksesories tindik hidung biasa dipakai oleh para perempuan di lubang hidung sebelah kiri. Piercing hidung kala itu dipercaya dapat mengurangi rasa sakit saat menstruasi dan melahirkan.

Kultur tindik hidung mencapai dunia barat baru pada tahun 1960-an s/d 1970-an, saat para kaum Hippies kala itu banyak yang berziarah ke India, lalu kemudian diadaptasi oleh pergerakan budaya Punk (1970-an) sebagai salah satu manifestasi dari pemberontakan.

Septum Piercing (septum/ sekat diantara lubang hidung) 

A Historical and cultural history of Body PiercingsTindik Septum cukup banyak ditemui diantara suku-suku tertentu, sering dipakai oleh para prajurit agar mereka tampak lebih menakutkan untuk musuh. Suku asmat di Irian Jaya, Indonesia, menindik septum-nya sampai dengan diameter 25mm, memungkinkan tulang kaki dari Babi hutan atau tulang paha dari musuh yang terbunuh untuk disisipkan ke dalam lubang tindiknya.

Suku Aztec, Maya dan Inca, menindik hidung mereka dengan emas dan batu giok, sebagai simbol dari Air dan Dewa Matahari, budaya ini masih dipraktikan olhe suku Indian Cuna di Panama, hingga hari ini. Di India, Nepal dan Tibet, Jimat yang disebut Bulak disenatkan juga di tindikan hidung yang mereka pakai. Diantara Suku Aborigin di Australia tindik hidung berfungsi untuk meratakan hidung, dengan begitu mereka akan tampak lebih menarik.

Tongue Piercing ( Tindik Lidah)

A Historical and cultural history of Body PiercingsSekitar abad ke-14 dan abad ke-16 , tindikan lidah berasal dari ritual dari suku Aztec dan suku Maya sebagai bentuk dari upacara pengorbanan darah. Mereka seringkali menyisipkan benang di lubang tindiknya untuk mengalirkan darah. Para pendeta dan dukun dalam budaya ini juga menindik lidah mereka untuk membuka alam bawah sadar mereka, agar mereka bisa berkomunikasi dengan para Dewa.

Memasuki abad ke-20, orang-orang yang bekerja di pertunjukan carnival (umumnya kaum Gipsi) mempelajari budaya tindik lidah dari para pertapa yang mereka temui dipengembaraanya, mereka akan melakukan atraksi tindik lidah sebagai bagian dari pertunjukan yang mereka lakukan. 

Kultur ini kembali muncul sekitar tahun 1980-an, berbarengan dengan berdirinya Gauntlet di LA, studio profesional piercing pertama di Amerika, Elayne Angel, pendiri Gaunlet, dikenal dengan campaign promosi tindak lidah untuk element kejutan & meningkatkan sensasi dari sex oral.

Lip Piercing (tindik bibir)

A Historical and cultural history of Body PiercingsTindik bibir/Mulut adalah yang paling umum dalam kultur di banyak suku bangsa di dunia, meski demikian hanya dua suku bangsa di Afrika (suku Dogon dan suku Nuba) yang menggunakan cicin sebagai aksesoris tindikanya. Kebayakan suku yang lain menindik bibirnya dengan memakai Labrets (batang kecil terbuat dari beragam material dengan bandul/bola di kedua ujungnya) atau menggunakan plat.

Orang-orang suku Dogon menindik bibir mereka untuk merepresentasikan atau menceritakan penciptaan dunia, dalam kepercayaan mereka, Dewa Noomi melepaskan seutas benang yang terselip di sela giginya, dan saat benang itu terlepas, benang tersebut berubah menjadi bahasa.

Dalam kebudayaan lain, piercing bibir merupakan bagian dari ritus perkawinan, Wanita dalam suku Makalolo memakai tindik berupa plat sebagai aksesories untuk mempercantik diri. Pemasangan tindik ini dilakukan dalam upacara pertunangan, sekitar enam bulan sebelum pernikahan dan ukuranya berhubungan dengan mas kawinya.

 

Navel Piercing ( Tindik pusar)

A Historical and cultural history of Body PiercingsPada masa Mesir kuno, Penindikan di pusar adalah tanda atau simbol status keluarga kerajaan -- hanya Pharaoh dan anggota keluarganya yang memakai tindik pusar dan jika ditemukan orang selain Raja dan anggota keluarganya yang memakainya , maka mereka akan dieksekusi mati.

Beberapa ribu tahun kemudian, saat bikini muncul di ranah fesyen, memperlihatkan pusar dianggap tabu atau melanggar norma -- karena percaya atau tidak -- kala itu pusar dianggap mirip dengan vagina. Piercing dan memperlihatkan pusar masih dianggap taboo, setidaknya hingga awal tahun 90-an, saat Christy Turlington (model asal AS) memperlihatkan tindik pusarnya di catwalk London Fashion show tahun 1993, Naomi Campbel dan Madonna dengan segera menirunya, dan dalam waktu singkat tindik pusar menjadi trend yang populer di era itu.

 

Niple Piercing ( Tindik puting)

Di masa Romawi kuno, kaum pria menindik puting mereka sebagai lambang kejantanan dan lambang persaudaraan. Setelah trend ini redup/hilang tindik puting menjadi praktik budaya kaum perempuan.

Pada pertengahan abad ke-14, Ratu Isabella dari Perancis memperkenalkan mode gaun dengan pola potongn yang sangat rendah - terkadang sampai pusar - sehingga area dada begitu terbuka dan kala itu tindik di puting menjadi perhiasan untuk menyesuaikan gaun yang dipakainya.

Tahun 1980-an, “Bosom ring” kembali ke dunia mode, seringkali aksesories mahal ini menyebabkan pembesaran pada puting, dan memberikan kesenangan pribadi bagi para kaum perempuan kelas atas.

Sementara, di zaman Inggris viktoria, Dokter akan menyarankam tindik di puting untuk menambah ukuran putingnya untuk mempermudahkan proses menyusui.

Genital Piercings (tindik genital)

 

Awal dari Piercing clitoral secara umum tidak diketahui, tetapi catatan tentang piercing genital kaum pria terdokumentasi dengan cukup baik.

Dalam kebudayaan Yunani kuno, piercing genital cukup populer diantara olahragawan dan para prajurit, tindik ini juga dipraktikan di kalangan para budak untuk mencegah mereka untuk berhubungan sex di Yunani dan Roma.

Piercing Apadravya juga disebut dalam Kama Sutra dan tercatat sekitar tahun 700 M, sementara Palang - telah dipraktekan di Asia tenggara selama ratusan tahun. Di Kalimantan, Palang menjadi simbol kekuatan melindungi keluarga, juga berfungsi untuk kesenangan pribadi. Piercing Guiche berasal dari Polinesia, praktik ini dilakukan oleh seorang Wahu, pria yang dihormati yang memakai pakaian wanita.

 

Disadur dan diringkas dari : 

Source : https://www.almostfamouspiercing.com/blog/piercing-culture-from-around-the-world/

Source : history-of-piercing