Blog Image

Blog

REVOLUTIONARY Re- Issued

May 11, 2020
/
ISSUES , REVIEW

Narasi akan berbeda-beda dalam setiap generasi. Selama opressi masih terjadi di sana pula akan menyala Revolusi.

Apa yang telah mereka perjuangkan, setiap perubahan yang telah mereka upayakan dan perlawanan yang telah mereka lakukan, ada dalam Ruh yang telah mereka wariskan.

Lestari dalam setiap narasi – lestari dalam setiap generasi.


CheCHE  GUEVARA (14 Juni 1928 – 9 Oktober 1967) .

Telahir dengan nama Ernesto “Che” Guevara, dikenal sebagai pemimpin Geriliya  dan figure utama dalam revolusi Cuba, sosoknya telah menjadi  simbol budaya perlawanan dan menjadi insignia untuk gerakan pemberontakan. Sosok yang juga, seorang Dokter, penulis yang produktif—kumpulan jurnal perjalananya ke penjuru Amerika selatan diabadikan dalam The motorcycle Diaries  –  seorang pecinta literasi yang eklektik.

Kisah hidup dan apa yang diwariskan Guevara masih menjadi perdebatan. Kontradiksi yang terlihat dari etos-nya, dari berbagai aspek hidupnya telah menciptakan persona dengan dualitas yang kompleks – sosok yang mampu mengayunkan pena dan senapan mesin dengan keahlian yang sama hebatnya, sambil bertitah bahwa yang terpenting dalam sebuah revolusi  adalah untuk melihat setiap manusia terbebas dari keterasinganya.

Che Guevara adalah wujud hidup dari hakikat Revolusi.

 

gandhiGANDHI, Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948) 

Keteguhannya terhadap kebenaran dan semua yang telah dicapai dalam hidupnya, Mahatma (jiwa yang agung) Gandhi, menjadi marka penting dalam sejarah politik-sosial dunia. Pasifis yang mendedikasikan hidup dan perjalanan spiritualnya untuk mengejar kebenaran – satya dalam paham Hindu. Dengan prinsip dasar “keteguhan-kebenaran” Gandhi  mengadaptasikanya pada pergerakan Satyagraha. Memimpin pergerakan kemerdekaan India dari koloni Inggris, juga mencetuskan prinsip anti kekerasan dalam gerakan protes segregasi ras di Afrika Selatan. Baginya tidak ada pertempuran yang harus terjadi selain berhadapan dan mengatasi iblis, rasa takut dan rasa tidak aman dalam diri sendiri.

Bahkan setelah kematianya, komitmenya terhadap anti kekerasan dan kepercayaanya terhadap gaya hidup sederhana – untuk memurnikan diri juga tujuan dari protesnya – telah menjadi suar harapan bagi orang-orang di seluruh dunia yang diopresi dan dimarginalkan. Satyagraha tetap menjadi filosofi penting dalam memperjuangkan kebebasan.

Ruh-nya hadir dalam setiap pergerakan membela hak manusia.  

 

malcolmMACOLM X :  (19 May 1925 – 21 February 1965) 

El-Hajj Malik El-Shabazz  a.k.a Malcolm X  dikenang sebagai duta muslim Amerika dan aktifis hak asasi manusia yang vokal di era pergolakan hak-hak warga Negara dan isu diskriminasi rasial yang parah di Amerika. Sosok yang teguh dan pelindung  orang-orang Afrika-Amerika yang kontrovesial, juga seorang juru bicara Nation of Islam.

Malcolm Little (nama lahirnya) digambarkan sebagai salah satu tokoh Afrika-Amerika yang terhebat dan paling berpengaruh. Dihormati karena telah membangkitkan rasa percaya diri orang-orang kulit hitam Amerika ditengah konflik rasial dan ketidaksetaraan hak warga negara dan juga telah menghubungkan mereka kembali ke warisan budaya Afrika. Malcolm X juga bertanggung jawab atas penyebaran Islam diantara komunitas kulit hitam Amerika.

 

marcosSUBCOMANDANTE MARCOS : (19 Iuni 1957)  

Pemberontak dari Meksiko dan mantan pemimpin militer juga juru bicara Zapatista Army of National Liberation (EZLN) bernama Rafael Sebastian Guillen Vicente atau lebih dikenal Subcomandante Marcos. Tentara Zapatista yang di bentuk di hutan Lacadon (1983) berfungsi sebagai unit pertahanan yang bertujuan melindungi suku Maya yang tinggal di Chiapas dari gangguan/pelanggarang batas dan penggusuran juga mendesak adanya reformasi sosial – agraris di Chiapas, tentara Zapatista memulai pemberontakanya di tahun  1994 dan Marcos menjadi Juru bicara mereka kala itu.

Dibalik topeng ski dan pipa rokonya juga kepribadianya yang penuh karisma, Marcos adalah penulis yang sangat produktif, lebih dari essay dan kurang lebih 21  buku yang mendokumentasikan sudut pandang politik dan filosofinya. Sebagian besar tulisannya berfokus pada ideology anti-kapitalisnya juga advokasi untuk hak orang pribumi, marcos juga menulis puisi dan novels. Gaya penuturanya cenderung disampaikan dengan ekspresi yang tidak langsung, dan sering menggunakan gaya penuturan fable. Meski beberapa lebih langsung dan bersahaja. Filosofinya kental dengan Marxisme dengan kritikan keras pada para pebisnis dan Negara, menggarisbawahi persamaan ideolgy Zapatista dengan Sosialis liberal juga Anarkisme. Meski demikian La Historia de los Colores ( The story of Colors) adalah cerita untuk anak-anak dan merupakan salah satu buku Marcos yang paling sering dibaca. Berdasakan mitologi penciptaan dari suku Maya, kisah dalam The story of colors mengajarkan toleransi dan menghargai perbedaan.

Gaya penuturan ironis dan romantis mungkin adalah cara Marcos untuk menyamarkan keadaan yang menyakitkan dari apa yang dia laporkan dan proteskan. Karya-karya literaturnya selalu memiliki tujuan, kumpulan dari artikel—puisi—orasi dan surat dicetak menjadi Buku Our Words is Our Weapon (2002) , novelnya berjudul The uncomfortable Dead  dirilis 2005.