Blog Image

Blog

EXIT THROUGH THE GIFT SHOP

March 13, 2020
/
ISSUES , REVIEW
EXIT THROUGH THE GIFT SHOP image

Sebuah sinema nonfiksi atau provokasi? Sebuah karya seni atau sebuah kelakar? Pertanyaan tentang keaslian dan kredibilitas sangat lekat dengan “Exit Through The Gift Shop” sebuah film dokumentasi hybrid yang diproduksi oleh fenomena diranah street Art,Banksy. Spekulasi yang tersebar tentang bahwa film ini sekedar hoax hanya menambah pesonanya.

Menyentuh trend budaya kontemporer, memecah ranah seni dan menumbuhkan obsesi menjadi selebritis, “ Exit Through The Gift Shop” menjadi daya tarik global, khusunya kaum urban yang  tertawan oleh seni bawah tanah, juga untuk mereka yang terpesona oleh bentuk narasi yang tidak konvensional.     

Dan sepeti inilah ceritanya dikisahkan: terlalu licik untuk terlbat dalam dokumentasi tradisional tentang dirinya sendiri, Banksy, justru merubah kamera menjadi penulis Chronicle-nya, seorang berkebangsaan Perancis yang konyol, atau gila, bernama Thierry Guetta, yang bertahun-tahun begitu terikat dengan camcorder-nya, merekam apa saja hampir setiap saat. Karena sepupunya, street artis yang bertanggung jawab menyebarkan mosaic karakter game space invader disudut-sudut kota Paris, Guetta diperkenalkan pada dunia bawah tanah para seniman geriliya. Setelah beberapa tahun, Guetta telah mengumpulkan ribuan jam dari rekaman terlarang tentang stensil, lukisan cat semprot, dan postering yang dilakukan oleh tokoh-tokoh street art pada malam hari. Diantara subjectnya adalah Shepard Fairey yang mecapai kemashyuran  dengan poster Andre the Giant dengan tagline “ObeY”. Berkat Fairey jugalah akhirnya Guetta mempunyai akses ke seniman jalanan genius yang elusive, Banksy, yang menyetejui Guetta untuk ikut dan merekam beberapa operasinya selama tidak memperlihatkan wajahnya.

Setelah memberi toleransi pada Guetta yang berjanji untuk mengabadikan karya mereka yang tidak kekal – setelah berbulan-bulan, dan sempat memusuhinya, Fairey dan Banksy mulai mempertanyakan kesungguhan Guetta untuk membuat film bareng mereka. Dan setelah mereka paksa , Guetta menunjukan hasilnya yang liar dan berantakan, dan semuanya menjadi jelas bahwa Guetta bukan seorang pembuat film, hanya pemilik toko di LA dalam fase krisis paruh baya yang tergoda oleh romantika dan petualangan di ranah street art. Banksy memutuskan untuk menyita berjam-jam rekaman yang telah dibuat Guetta, dan menggeser fokus film ke Guetta. Pengalihan ini membuat Banksy makin menguatkan sisi misteriusnya – dengan wajah yang disamarkan dibawah hoodie dan suaranya yg didistorsikan – tanpa terlihat atau terdengar arogan.

Sang Seniman mendorong Guetta untuk menjajaki street art-nya sendiri. Mengadopsi nama “Mr.Brainwash,” Guetta mulai menutupi muka kota LA dengan karya deritative yang meniru gaya Warhol dan Banksy. Kekurangan bakat dan pengalaman, Mr. Brainwash menutupi kekuranganya itu dengan self-promotion. Bersana dengan Fairey dan Banksy yang sebenarnya keberatan untuk mendukungnya, Guetta menyebarkan rumor tentang pemeran yang akan digelar.  Lebih mempedulikan pengakuan daripada proses berkaya, Guetta mempekerjakan artisan untuk merealisasikan konsepnya yang tidak original. Hampir semua karyanya ber-objek ikonografi budaya pop dengan unsur kejutan yang terkesan tumpul : Elvis dengan memegan senapan mesin, alih-alih gitar, cat semprot dari kaleng sup Campbell yang monumental, Andy Warhol, Kanye West, Mr.Spock dalam film startrek klasik, semua memakai wig Marilyn Monroe.

Berkat usaha self-promotion yang viral dan tanpa lelah, pameran seni yang digagas Guetta nyatanya sukses dan menjadi pembicaraan yang cukup panas. Desas-desus-nya sampai ke Madonna, hingga akhirnya Mr.Brainwash ditunjuk untuk membuat design cover album-nya, tentunya dengan design, Madonna memakai wig Marilyn.

Terlepas kontroversi tentangnya, “Exit through the Gift Shop” adalah sebuah film dokumenter yang menarik dan sangat mungkin untuk dikagumi, dengan kumpulan rekaman eksklusif para seniman jalanan memproduksi karyanya. Juga tentunya Banksy, sang creator, adalah filmmaker yang berbakat, seperti dokter Victor Frankenstien yang menciptakan monster-nya. Judul-nya sendiri menyinggung aspek pasar seni dan para pialang-nya.