Blog Image

Blog

REVIEW : DOWNSET

December 9, 2019
/
REVIEW
REVIEW : DOWNSET image

Unit hardcore dengan energy mendesak ini sering disebut-sebut sebagai yang pertamakali meleburkan pengaruh heavy metal – punk – rap – funk dan lirik yang menkonfrontasi isu sosial kedalam musik mereka, berasal dari San Fernando Valley/ Los Angeles, semula  terbentuk dibawah nama Social justice di tahun 1986. Aktif di skena bawah tanah US era 90-an, Rey Anthony Oropeza (Voc), James Morris (Bass), Chris lee (drum) sebagai penggagas juga formasi awal, kemudian bergabung Rogelio “Roy” Lazano dan Brian’Ares’ Schwager (Gitar) dan secara perlahan mereka berevolusi menjadi Downset. Memulai debutnya dengan melepas rentetan single dalam format kaset oleh beberapa label, ‘ Angel/Ritual’  (Theologian Records) dan ‘Our Suffocation’ (Abstract records) menjadi salah satu yang paling dikenal publik musik. Berkembang dan memilik fanbase yang establish, mereka tidak bisa menghindari ketertarikan major label.

Di awal 1993, Rey dkk, harus mengkompromikan etika hardcore mereka agar dapat menjangkau publik musik yang lebih luas, mulai menetapkan nama downset dan memilih bergabung dengan Mercury Records.Musim gugur 93, mereka masuk rekaman di Silver Cloud Studios, dengan sahabat sekaligus mentor dan producer Roy Z, untuk sekedar memproduksi EP. Tetapi track yang dihasilkan sangat kuat dan emosional, kemudian mereka memutuskan untuk merekam album penuh.  Hasilnya adalah album Ephonim – Downset (94) – salah satu album terberat dan cerdas yang pernah muncul di bawah tana Los Angeles, lirik dengan konten kesadaran sosial dinarasikan dalam style hip-hop dengan penuh amarah, tahun-tahun formatif mereka di lingkungan LA yang penuh kekerasan dan miskin akhirnya menemukan pembebasan penuh.

Di tahun yang sama, mengikuti pukulan keras dari debut  album ini, Rey cs, diundang untuk menjadi bagian dari rangkaian tour Eropa bersama Biohazard – Dog Eat Dog , di 15 negara, dilanjutkan tour bareng Pantera – The Almighty di akhir tahun. Sayangnya, jadwal yang padat dan melelahkan terbukti terlalu berlebihan, Lazano akhirnya keluar dari formasi – Downset merekam album ke-2 mereka dengan berempat. Sekali lagi musiknya, masih berotasi dengan Hip-hop yang tanpa kompromi, Skena Hardcore dan graffiti sebagai inspirasi, mencerminkan pertumbuhan personal yang didapatkan dari pengalaman pribadi tiap personelnya.  Tahun 1996, mereka melepas album—Do We Speak A Dead Language? yang paling menuai sukses secara komersil.

Setelah meninggalkan Mercury Records, Downset ditairk oleh Epitaph Records dan merilis album ketiga mereka “Check Your People” (2000), tahun 2004 mereka melepas album ke-4 “Universal” dari label independent Hawino Records.

Meski downset tidak pernah mengalami sukses di ranah mainstream, dan meskipun line up-nya datang dari tradisi hardcore urban, bukan dari skena metal, mereka dipertimbangkan sebagai pengaruh penting didalam sub genre nu-metal dan rap metal yang baru lahir.  Tahun 2014 lalu, mereka merilis album One Blood.

Disadur dan diringkas dari berbagai sumber

Photo diunduh dari laman Facebook Downset