Blog Image

Blog

REVIEW : WARZONE

November 20, 2019
/
REVIEW
REVIEW : WARZONE image

Dibesarkan dilingkungan kelas pekerja yang keras di Washington heights section, New York City,  menjadi landasan musik yang akan dilahirkan Raymond “Raybeez” Barbieri , pengalaman masa beliannya dicerminkan kembali dengan berani bersama Warzone.

Tempatnya dalam sejarah New York Hardcore telah dikokohkan bahkan jauh sebelum Warzone terbentuk. Diawal-awal perjalanannya, Raybeez pernah bermain drum untuk Agnostic Front di album EP United Blood (1983), album yang menjadi cetak biru dari keseluruhan gelombang hardcore. Tidak berselang lama, Raybeez kemudian didaulat sebagai frotman Warzone, peran yang telah ditakdirkan untuk dijalaninya. Mengikuti dirilisnya album EP Lower East Side Crew – dengan line up yang telah berubah, mereka mem-produksi rekaman yang akan menjadi album debut yang paling berharga : Don’t forget the struggle, Don’t Forget the Street. Dengan materi “Intro Bust” – “As One” – “We’re the Crew” dan tentu saja track anthemik yang menjadi eponim albumnya. Album rilisan tahun 1987 ini mengakar menjadi pengaruh kuat, tidak hanya sebatas skena Hardcore tapi Oi dan skena punk.

Dengan album Open Your Eyes (1988) Raybeez crew makin memanas, dengan track “Dance Hard or Die” dan “Face Up to it” . Di album ini Warzone mulai melebarkan pendekatan sonic mereka, dengan menggabungkan sentuhan riff metal dalam aransemen-nya, meski para pendengarnya memberikan reaksi negatif, hal tersebut tidak menghambat mereka untuk meng-eksplorasi sisi hardrock dalam spectrum musikal di album berikutnya.

ERA 90-an

 

Setelah beberapa waktu menjauh dari studio rekaman, Warzone kembali di awal-awal 90-an, dengan line up baru dan back – to – basic sound.  Tahun 1994 Old school to new school dirilis, album yang sebagain besar meng-cover lagu-lagu Hardcore klasik dari dekade sebelumnya, termasuk “Break down the wall” (Youth of Today) – “Wasted life” (Urban Waste) dan “In search Of “ (Cause for Alarm) dan beberapa track Warzone versi baru.

 

Tahun berikutnya merupakan tahun yang sibuk bagi Raybeez cs, merilis dua studio album  The Sound of Revolution (1996) – Fight for Justice (1997). Sangat disayangkan, momentum yang dibangun Warzone harus terhenti saat Raybeez – seorang veteran AL Amerika – menutup usia

diumur 35 tahun saat menjalani perawatan pneumonia. Meski Warzone telah kehilangan satu-satunya personel tetap sejak awal berdirinya, pesan Raybeez masih menggema.

 

Pesan tentang menyatukan perbedaan pandangan politk, pandangan sosial atau idealism dan menentang segala hal yang bisa memecah belah kaum muda , desakan untuk mengakhiri kekerasan rasial dan stigma negatif, juga dukungan untuk peranan aktif perempuan di skena hardcore punk yang secara tradisional didominasi laki-laki, masih menghubungkan salah satu sosok infulencial Raybeez dengan generasi hardcore kidz berikutnya.