Blog Image

Blog

REVIEW : BOOMBOX, DO THE RIGHT THING & RADIO RAHEEM

October 9, 2019
/
REVIEW

Nostalgia untuk Boomboxes bukan hanya sekedar peralatan stereo. Saat volume diputar maksimal dan tidak bisa dihindari, tidak ada pilihan lain kita harus saling mendengarkan satu sama lain, berbeda dengan saat memakai headphones, kita tidak bisa saling berbicara.

 

Di akhir 80-an, kota-kota besar mulai memaksakan aturan tentang kebisingan. Walkman menjadi populer karena lebih murah, ringan dan tidak menyebabkan “kebisingan”. Hingga akhirnya orang-orang berhenti mendengarkan musik bersama.

 

 

https://www.rollingstone.com/movies/movie-reviews/do-the-right-thing-88272/   

 

Sebelum walkman, speaker portable, MP3 player , bahkan ipod dan portal digital,  di era 80-an dan 90-an Boombox adalah salah satu  perangkat yang bisa memenuhi kebutuhan ruang audio kala itu, pemutar musik portable dengan  fitur radio transistor lengkap dengan deck kasetnya (CD pada perkembangan berikutnya), dua atau lebih power speaker (Boom) yang menyatu dengan amplifier mampu menghantarkan suara dengan volume tinggi.Dilempar ke pasar Amerika di tahun 70-an , popularitas Boombox  melonjak saat memasuki era 80-an dan seakan menjadi simbol dari sebuah status. Dengan genre musik yang heterogen, Boombox bisa ditemukan dimana-mana dengan beragam tipe dan ukuran kala itu.  

  

Boombox, Do The Right Thing & Radio Raheem.

 

 Boombox beserta kultur yang menyertainya, menjadi elemen distingtif dalam sebuah Film  garapan Spike Lee berjudul “Do The Right Thing”.  Film yang mengangkat tema perlawanan terhadap isu dan opresi rasial yang cukup panas di amerika tahun 80-an.  Selain tokoh utama Mookie yang diperankan sendiri oleh sang sutradara,  tokoh lain yang esensial adalah Radio Raheem, tokoh yang selalu membawa Boombox disetiap scene-nya. Sosok Radio Raheem, sangat mungkin menjadi  sebuah metafora dari perlawanan dari diskriminasi yang sering dialami komunitas kulit hitam. Tokoh yang diperankan oleh Bill Nunn, dengan caranya sendiri berusaha menentang hegemoni dan hierarki dari tatanan sosial dilingkungan yang  jadi setting utama di “Do the Right Thing”,dengan Gospel perlawan “Fight the Power” track Public Enemy yang di-Blast dari Boombox Promax super jumbo (tecsonic).

 

Karakter Radio Raheem ikut andil dalam mengkristalisasi Boombox sebagai ikon kultur Urban, sebagai refleksi dari keinginan kuat untuk didengarkan dan dihiraukan. Boombox berevolusi menjadi marka budaya, sebuah symbol perlawan dan media untuk meneriakan “pesan”, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, suara komunitas yang melintasi keberagaman latar budaya, Boombox menjadi senjata distraksi masal.

 

Kala itu, apapun tipe dan ukuranya, saat volume didesak maksimal ,track favorit mulai berotasi di dalam tape deck dan saat serangan audio mulai menebar, Boombox menjadi api unggun sonic, menawan orang-orang untuk berkumpul, larut dalam interaksi, bertukar pikiran  bahkan berbagi kesedihan, memulai sebuah pesta atau mungkin memulai sebuah aksi perlawan terhadap penindasan .  

 

Berbeda dengan hari ini, dunia berbagi musik di ruang publik telah bergeser ke ruang maya, berbagi dalam format data sebagai mana kita berbagi ke-anonim-an kita.