Blog Image

Blog

REVIEW : SLAYER

September 27, 2019
/
REVIEW

slayer 1Merupakan salah satu band yang influensial di genre trash Metal era 80-an. Grafik lirik mereka berurusan hampir dengan semuanya, mulai dari kematian, perpecahan akibat peran dan kisah horror dari Neraka. Dengan kecepatan, permainan solo gitar yang liar juga chaotic dan musik kuat yang secara efectif membangun nuansa mengerikan dari sebuah obsesi tentang sisi gelap, beberapa hal inilah yang membuat slayer punya warna sendiri dan disejajarkan dengan  Tiga raksasa Trash Era 80-an lainya ( Metallica, Megadeth dan Anthrax). Perjalanan mereka turut dibarengi kontroversi, beberapa rumor yang beterbangan sekitar Satanisme dan faham Nazi  hanya menambah sisi mistis mereka. Bertahun-tahun , mereka telah menghasilkan album berkualitas tinggi, termasuk album klasik yang tidak terbantahkan “Reign in Blood” ,dengan ini jumlah penentang dan pencela menyusut dan lambat laun Kerry King dan kawan-kawan mulai mendapat pengakuan . Slayer bertahan dengan vitalitas yang tangguh dengan kadar kompromi paling sedikit dari band metal pra-Nirvana mana pun, dan intensitas mereka mengilhami respons yang sama dari penggemar setia mereka.

slayer 2Terbentuk tahun 1982, di Huntington Park, California oleh gitaris Kerry King & Jeff Hanneman, lalu kemudian merekrut bassis/Vokalis Tom Araya dan drummer Dave Lombardo. Diawal perjalananya, mereka sering meng-Cover track-track dari Judas Priest dan Iron Maiden, tetapi dengan cepat mereka menemukan bahwa dengan mengekploitasi  image satanis mereka akan mendapat lebih banyak atensi. Mereka kemudian diundang untuk mengisi track di kompilasi Metal Massacre Vol.3 di bawah naungan Metal Blade Rec, milik Brian slagel, tak lama berselang debut album mereka Show No Mercy dirilis. Meskipun pendekatan awal mereka sedikit kartun, musikalitas dan keahliah instrument yang ditunjukan adalah bukti kualitas mereka. Dua EP “Haunting The Chappel dan Live Undead dirilis tahun 1984, album Hell Awaits (1985) memurnikan obsesi lirikal mereka tentang kutukan dan siksaan, suskses menjadi sensasi di lingkaran genre Heavy Metal dan melahirkan banyak pengikut fanatic.  

Pendiri Def Jam Rick Rubin menggaet mereka ke label miliknya dan berhasil meretas Reign of Blood. Menggabungkan permainan cepat Kerry CS dan mengadaptasi  Beat juga struktur dari musik Hardcore, dengan konten lirik yang mengagitasi, album ini membawa Slayer ke jangkauan audience yang lebih luas, dan banyak menganggapnya sebagai album speed metal sepanjang masa ( satu kasta dengan Metallica “Master of Puppets).

slayer 3“ South of Heaven”  cukup membuat kecewa para penikmat  Hardcore, berbanding terbalik dengan keberhasilan Kerry dkk memaksimalkan potensi musikal mereka, dan mendobrak reputasi sebagai salah satu band extreme yang tercepat. Tahun 1990, “Season in the Abyss,  diterima dan dihargai dengan baik oleh publik musik,  menggabungkan kemasan komersil tanpa mengurangi intensitas sisi klasik dari Slayer – “War Esemble” menjadi track favorit di MTV Headbanger ball dan Slayer makin mengukuhkan tempatnya dijajaran raksasa Trash. 

1994, album “Devine Intervension” menuai kesuksesan yang massive, dan berhasil bercokol di posisi 8 dalam tangga lagu Billboard 200. Tahun 1996, “ Undisputed Attitude” dirilis, berlanjut ke “Diabolus in Musica” (1998), kembali di bawah Def Jam God Hates Us (2001), sebuah Antology dengan 4 kepingan disc “Soundtrack to the Apocalypse” (2004), materi segar dari album “Christ Illusion: dilepas tahung 2006. Diselangi jadwal tour dari 2007-2008, “World Painted in Blood” (2009) dirilis.

Sepeninggal , Gitaris sekaligus salah satu pendiri Slayer Jeff Hanneman yang meninggal tahun 2013 lalu,King dan Araya memutuskan untuk tetap melanjutkan Slayer, tahun 2015 album “Repentless” dirilis dibawah Nuclear Blast.