Blog Image

Blog

REVIEW : Frontwoman Phenomenon

December 11, 2018
/
REVIEW

Frontwoman phenomenon                   

Fenomena kehadiran perempuan di ranah musik bawah tanah yang diidentikan dengan lelaki adalah satu hal yang luar biasa. Peran aktif perempuan-perempuan hebat ini  telah ikut membentuk topografi pergerakan musik bawa tanah, apapun bentuk kontribusi kreatif dan positif yang telah diberikan, hal tersebut  wajib diapresiasi.

Berhadapan langsung dengan chaos-nya area mosh pit dan mengeluarkan energi yang tidak sedikit tentu bukan perkara mudah.  Frontwoman dari beberapa Band bawah tanah berikut ini  tidak hanya mampu berdiri dan bersuara lantang di Gigs,tetapi sangat mungkin menjadi ikon yang influencial.  


I.                 Candace kusculain (Walls of Jericho)

Terbentuk di tahun 1998, di Detroit, Unit metalcore dengan elemen hardcore, thrash dan punk, sejak awal berdirinya Band ini telah mendapatkan fan fanatik yang selalu memenuhi venue disetiap live shownya. Mendapat penghargaan dari  raksasa Hardcore  Madball, Hatebreed bahkan Sepultura. Candace Kucsulain, dengan kemarahan yang mendesak terdengar dalam teriakanya. Kucsulain memilik suara yang menyentuh dan penuh dengan kekuatan dan gairah.


II.               Angela Gassow (Arch Enemy)

Jika berhubungan dengan Swedish Death metal yang beracun, tidak perlu mencari lebih jauh dari Arch Enemy. Digagas oleh gitaris Carcass Michael Amott (1996), musiknya adalah fusi antara kebrutalan dan komposisi melodis. Vokalnya yang intens, terdengar bengis dan memicu adrenalin saat perform. Gassow tidak hanya mampu menjadi Frontwoman tetapi sukses membawa Arch Enemy satu panggung dengan Anthrax, Iron Maiden, Hatebreed, Slayer & Motorhead.



III.              Jill (Stepforward)

Pemilik lengkap nama Jennifer Jill adalah yang bertanggung jawab atas suara Growl di unit hardcore/metal asal Jakarta.  Aktif di era pertengahan 90-an, sepanjang karirnya di ranah bawah tanah Stepforward telah meretas  beberapa single lepas untuk album kompilasi lokal era 90-an hingga 2000-an awal seperti Breathless pada 1997, Ticket To Ride pada 2000, Keep It United pada 2000, The Riot Compilation pada 2006, dan The Art of Metal pada 2007. Rilisan full-album mereka, Stories Of Undying Hope(Pinball Records, 2001) cukup berpengaruh untuk scene hardcore/metalcore lokal saat itu.


IV.             Phopie (Lose It All)

Kurang lebih telah 10 tahun , perempuan  mungil ini menapaki ranah musik bawah tanah bersama satuan hardcore—metal LOSE IT ALL.  Perjalananya bersma LOSE IT ALL telah merertas EP bertitle LIVE YOUR LIFE (2011) , Full album NEW BEGINNING (2014) dan CONTENTIOUS (2017).  Vokal berdistorsinya masih akan meramaikan kancah musik bawah tanah Nasional.

 

Dari waktu ke waktu telah lahir perempuan-perempuan luar biasa di ranah musik bawah tanah. Keberadaan mereka turut menggenapi pergerakan skena musik bawah tanah yang semakin terbuka dan toleran.

 

salut kami yang setinggi-tingginya.