Blog Image

Blog

REVIEW : A Grafitti Brief tales

August 31, 2018
/
ISSUES , REVIEW
REVIEW : A Grafitti Brief tales image

Introduction

 

Terminologi Grafitti atau dalam bahasa latin Graffito,  merujuk pada semua bentuk tulisan atau gambar  yang dicorat-coret, digores atau dilukis secara tidak resmi (tanpa ijin yang legal) ditembok atau fasilitas di ruang publik. Mencakup tulisan-tulisan sederhana  sampai lukisan dinding  yang kompleks. Bentuk seni lukis dinding  ini telah ada sejak dulu, beberapa temuan bahkan berumur sama dengan masa Mesir kuno, Yunani kuno dan jaman kekaisaran Romawi kuno.

Di masa sekarang, cat aerosol dan spidol marker menjadi media yang sering digunakan untuk membuat graffiti. Di banyak negara, mencorat-coret tembok atau sarana publik tanpa ijin resmi dianggap sebagai vandalisme dan dikenakan sanksi hukum.

Seni jalanan ini  sering kali dibuat untuk menyerukan pesan-pesan sosial dan  kritisi terhadap isu-isu politik, atau murni sebagai ekspresi estetis. Beririsan dengan budaya hip hop, graffiti ber-evolusi berbarengan dengan musik hip hop, B-boying dan element lainya,  diranah gangster graffiti berfungsi sebagai identitas dan sebagai marka teretori mereka, tentunya dengan style graffiti-nya masing-masing.

Kontroversi yang lekat dengan seni vandal ini terus menuai pro dan kontra, meski demikian seni jalanan ini tetap berkembang, akan tetap menjadi insignia sebuah generasi, tetap mewarnai sudut-sudut monton ruang publik, tetap menuai cibiran bagi penegak regulasi tata kota, dan tetap dikagumi bagi para pecinta kebebasan ber-estetika.

 

Beberapa jejak yang bisa dijadikan awal  momentum seni vandal ini menjadi ranah seni yang dapat diapresiasi oleh publik.

 

Old School

 

Darryl McCray,(1960’s – 1970’s)

Dengan nickname Cornbread yang didapatnya saat berada dilembaga pemasyarakatan remaja,  disebut-sebut sebagai pioneer graffiti modern. Sepak terjangnya diawali ketika ia  mengotori sudut-sudut ruang publik di kota Philadelphia dengan tagging “Cornbread Loves Cynthia”,  kecanduan dengan aksi vandal-nya, Cornbread  menorehkan tagging “Cornbread Lives” di tubuh seekor gajah di kebun binatang Philadelphia bahkan tersebar kabar dia juga sempat mencorat-coret  Jet pribadi Jackson Five yang sedang diparkir di Airport Philadelphia.

 

Phase 2 & Bublle writing

Dalam riwayat perjalanan graffiti Phase 2 dikenal sebagai  orang yang mengembangkan style graffiti “Bubble writing”  yang populer dan banyak ditiru.  Gaya graffiti yang kemudian dikenal dengan Softies ini dikembangkan oleh Phase 2 di Newyork pada tahun 70-an, dan menjadi influence besar dibudaya Hip Hop. Phase 2 juga merupakan  seorang B-boys dan kadang menjadi DJ di event-event hip hop. Pengaruh dari keunikan Bubble style masih bisa kita nikmati hingga sekarang.

 

 

Jean Michel “SAMO” Basquiat

Tahun 1977-1980 menjadi marka penting dalam sejarah graffiti , pada tahun inilah untuk pertamakalinya Jean –Michel Basquiat dengan SAMO-nya membawa seni jalanan ini ke  ruang pamer di galeri-galeri di kota Manhatan & Newyork. Meski diapresiasi oleh banyak seniman kala itu, , Basquiat menutup karir kesenianya dan Grafittinya dengan  tagging SAMO IS DEAD di tahun 80-an.

 

Blek le Rat & Stencils

Xavier Prou menempatkan dirinya didalam sejarah graffiti semenjak dia memperkenalkan seni jalan ini di sudut-sudut ruang publik di kota Perancis tahun 1981. Sebagai Blek le Rat seniman graffiti  ini  dikenal sebagai bapak dari graffiti stencil, dengan membuat stencil Rat yang merupakan anagram dari kata Art. Rat mengekspresikan seni-nya melalui media stencil yang seringkali disertai konten tentang kritik dan kesadaran sosial terhadap isu-isu global.

 

New school

Shepard Fairey (OBEY Giant) & Bansky


Shepard Fairey adalah salah satu hibrida baru di ranah graffiti dan seni jalanan yang muncul di era 90-an, dengan stencil OBEY GIANT-nya memungkinan dia untuk membawa grafitti dan intuisi designya ke area yang lebih luas. OBEY GIANT-nya menjadi trade mark dan menjadi salah satu  brand raksasa hingga kini.

Bansky termasuk angkatan baru yang turut merubah wajah seni jalanan dan graffiti di abad 21. Memulai karirnya sebagai seniman graffiti dan turut menggagas skena graffiti yang massiv di Bristol, UK. Pada tahun 2000-an Bansky beralih ke seni stencil dan menandai transformasinya menjadi seniman yang paling banyak dibicarakan di ranah seni jalanan dan juga sukses menginvasi ranah seni dunia.

 

Sekedar berbagi persepsi, Vandalisme /seni jalanan bisa ditransformasi menjadi energy kreatif jika diarahkan kedalam koridor yang lebih layak (lebih bertanggung jawab), minimal tidak hanya sekedar meluapkan ekspresi atau mengukuhkan eksistensi. Tanpa mengurangi esensi “jalanan”atau “pemberontakan”-nya, seni merusak (vandalisme) dapat dikemas  dengan visual yang lebih enak  untuk diapresiasi, memiliki fungsi dekoratif diruang-ruang public yang berkesan membosankan dan datar atau bahkan dengan konten-kontenya yang kritis, bisa menjadi bahan perenungan bagi kita.

 

 

Foot Note :

Flip the Script by Christian  P Ackher

Flip the Script adalah salah satu literarur yang bisa dijadikan referensi untuk para designer dan writer yang tertarik untuk menyimak  studi tentang perkembangan “American handstyle  tagging”. Mengupas tentang konteks sejarah, dan transisi didalam graffiti style., sampai ke media yang digunakan . 

Kumpulan dokumentasi graffiti sebagai salah satu bentuk seni kaligrafi kontemporer ini di susun oleh Christian  P Ackher art director untuk brand Zoo-york berdasarkan riset tentang sejarah perkembangan graffiti di Amerika.

Ackher kemudian mengkategorikan styfle graffiti di Amerika menjadi 8 wilayah geografis : Los Angeles, Chicago, Philadelphia, Newyork, Mid Atlantic, Boston dan San Francisco.  Setiap wilayah memiliki influence dan sejarahnya masing-masing. Flip the script merepresentasikanya secara mendetail, seperti ke khas-an LA typografi, juga tentang pengaruh  budaya gangster tahun 60 terhadap karakter graffiti di Philadelphia. Buku ini juga mengupas beberapa element tagging yang ikonik seperti Crown, Arrow juga kuotes yang sering dipakai kala itu, juga mengajak kita untuk mengarungi rentang evolusi tagging dari beberapa writer seperti SPone, Keo dan Mes. Beberapa kota dengan budaya tagging  yang seringkali luput dari sorotan publik turut juga diulas.